Wednesday, September 7, 2016

PRAKTIKUM KANDUNGAN VITAMIN C BERBASIS HAKIKAT SAINS


DIAGRAM VEE DAN LEMBAR KERJA SISWA
PENGARUH SUHU TERHADAP KANDUNGAN VITAMIN C PADA LARUTAN VITAMIN C DAN SARI BUAH

ANALISIS SILABUS BERBASIS HAKIKAT SAINS
KOMPETENSI DASAR
HAKIKAT SAINS
PENGETAHUAN (KOGNITIF)
METODE & PROSES (KETERAMPILAN)
NILAI (SIKAP)
3.Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem pencernaan dan mengaitkannya dengan nutrisi dan bioprosesnya sehingga dapat menjelaskan proses pencernaan serta gangguan fungsi yang mungkin terjadi pada sistem pencernaan manusia melalui studi literatur, pengamatan, percobaan, dan simulasi.
Mampu menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem pencernaan dan mengaitkannya dengan nutrisi dan bioprosesnya sehingga dapat menjelaskan proses pencernaan serta gangguan fungsi yang mungkin terjadi pada sistem pencernaan manusia sebagai akibat kekurangan vitamin C, mineral yang berperan sebagai koenzim melalui studil iteratur, pengamatan, percobaan, dan simulasi.
Siswa mampu merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah ilmiah kegiatan eksperimen untuk membuktikan pengaruh suhu terhadap kandungan vitamin C pada larutan  vitamin C dan sari buah melalui pengamatan, pengumpulan data dan analisis data

Siswa mampu mengembangkan sikap rasa ingin tahu, kreatif, inovatif, jujur, dan bertanggung jawab dalam melakukan pengamatan dan percobaan di dalam laboratorium

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihKijVVA2RHPajEBA98h_6gSlIbiPDrCq3vT02pBFc8gaGtTlZmWDwzghhXJxEKSl9j4d7VhVc533ohl7Qx8whoVaKD2pC1AdaYIHBEbPfBEHX2x72P8EIouuMWKtI7sMzhBU5HP7ozsU/s1600/Vit+C.png
Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi Sistem pencernaan yang berfungsi mencerna segala macam makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita melalui serangkaian proses pemecahan makanan menjadi molekul yang lebih sederhana menjadi sumber energi, dan sumber bahan baku untuk membangun tubuh.

Kandungan vitamin C dipengaruhi oleh suhu. Dengan suhu tinggi kandungan vitamin C pada larutan vitamin C dan sari buah akan berkurang.

Dalam mengatasi permasalahan kulit, vitamin C dapat dijadikan sebagai antioksidan untuk memperbaiki jaringan kulit yang telah rusak akibat radikal bebas yang tidak bisa ditangkal. Selain itu vitamin C mampu merangsang pembentukan kolagen kulit dan menjaganya dari beragam kerusakan. Kolagen dibentuk dari adanya produksi hidroksiprolin dan hidroksilin yang memiliki fungsi untuk mengikat molekul penghasil kolagen. Kolagen mampu meremajakan kulit sehingga kulit tidak kusam sehingga kulit semakin kencang. Sifatnya sebagai water holder dapat memberikan kelembapan pada kulit dan mencegahnya dari resiko kekeringan,

Kebaikan menkonsumsi vitamin C dalam jumlah yang tepat dan teratur dapat menghambat proses penuaan dini, menghaluskan kulit serta membentuk pigmen di kulit sehingga kulit terlihat bersih dan cerah. Dalam merawat kulit, vitamin C juga bisa menjadi perisai bagi kulit terhadap cahaya matahari, paparan sinarnya akan terhalang oleh adanya vitamin C yang mengandung antioksidan.  


4.  Menyajikan hasil analisis tentang kelainan pada struktur dan fungsi jaringan pada organ-organ pencernaan yang menyebabkan gangguan sistem pencernaan manusia melalui berbagai bentuk media presentasi.


Siswa mampu menyimpulkan hasil eksperimen tentang pengaruh suhu terhadap kandungan vitamin C pada larutan  vitamin C dan sari buah
Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihKijVVA2RHPajEBA98h_6gSlIbiPDrCq3vT02pBFc8gaGtTlZmWDwzghhXJxEKSl9j4d7VhVc533ohl7Qx8whoVaKD2pC1AdaYIHBEbPfBEHX2x72P8EIouuMWKtI7sMzhBU5HP7ozsU/s1600/Vit+C.png·   Rumus kimia vitamin C (asam askorbat) :  C6H8O6.
·   Struktur kimia asam askorbat :

·   Karakteristik vit. C : kristal tidak berwarna atau serbuk kristal putih atau kuning pucat, tidak berbau atau hampir tidak berbau dan berasa asam. 


Siswa mampu mengkomunikasikan hasil eksperimen tentang pengaruh suhu terhadap kandungan vitamin C pada larutan vitamin C dan sari buah dalam bentuk tabel atau grafik dan menuangkannya dalam  laporan tertulis maupun prensentasi


Siswa mampu mengembangkan sikap  tekun, jujur, kreatif, bertanggung jawab dan toleran dalam mengambil suatu keputusan

Siswa mampu mengamalkan nilai-nilai keimanan dengan mengetahui kelainan pada struktur dan fungsi jaringan pada organ-organ pencernaan yang menyebabkan gangguan sistem pencernaan dikaitkan dengan nutrisi dan bioprosesnya.

vitamin C  merupakan antioksidan yang melindungi tubuh  terhadap kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas, bahan kimia beracun dan polutan. berikut manfaat dari vitamin C untuk kesehatan : Meningkatkan kesehatan rambut; Meningkatkan energi;  Memperkuat kuku;  Menghambat penuaan kulit ; Mendukung kekebalan,  Mencegah komplikasi setelah flu, Menurunkan risiko stroke.
Vitamin C merupakan senyawa organik yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan. Kandungan vitamin C dipengaruhi oleh suhu. Pengaruh suhu tinggi terhadap kandungan vitamin C sangat besar.


DIAGRAM VEE

PENGARUH SUHU TERHADAP KANDUNGAN VITAMIN C
 PADA LARUTAN VITAMIN C DAN SARI BUAH

1.     Fokus Pertanyaan
a.   Apakah semua sari buah mengandung vitamin C?
b.   Apakah suhu tinggi berpengaruh terhadap kandungan vitamin C?
c.   Bagaimana kandungan vitamin C pada masing-masing perlakuan dengan suhu yang berbeda?

2.     Dasar Nilai
Vitamin C atau asam askorbat adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan, antara lain memperkuat imunitas terhadap infeksi, menjaga struktur kolagen, membantu penyerapan zat besi, mempertajam kesadaran dan sebagai antioksidan. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam.

3.     Dasar Teori
Keasaman atau pH vitamin C tergolong asam. Vitamin C sangat sensitif terhadap pemanasan, bahkan pemanasan yang tergolong ringan (sedikit diatas suhu kamar). Vitamin C juga sensitif terhadap sinar, senyawa oksidator (seperti : iodium, Hydrogen Peroksida dll) dan logamserta pemanasan yang tinggi dapat mempercepat laju oksidasi pada vitamin C yang menyebabkan kerusakan pada sari buah. Vitamin C teroksidasi dalam larutan oleh oksigen, dimana terjadi reaksi hidrolisis protein dan lisin menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin (merupakan bahan pembuatan kolagen).
Reaksi hidrolisis dapat diuraikan sebagai berikut :
Asam askorbat (vitamin C)                    asam dihidro askorbat
    C6H8O3                                              C6H6O
                                                    
                                                                  
                                                                   H20


Dengan struktur kimia berikut ini :

 




·   Massa molar : 176,12 g/mol
·   Kepadatan : 1,69 g/cm³
·   Titik lebur : 190 °C
·   Titik didih : 553 °C
·   Larut dalam : Air
·   Nama IUPA C: (R)-3,4-dihydroxy-5-((S) - 1,2-dihydroxyethyl)furan-2(5H)-one

Vitamin C stabil pada keadaan kering, namun dalam bentuk larutan mudah teroksidasi, terutama dalam larutan alkali. Oksidasi dipercepat dengan adanya panas, cahaya, oksidator dan logam berat. Vitamin C inkompatibel dengan garam besi, agen pengoksidasi dan garam dari logam berat.
Vitamin C mudah diabsorpsi di saluran cerna dan terdistribusi secara luas ke dalam jaringan. Konsentrasi tertinggi ada dalam leukosit dan platelet daripada dalam eritrosit dan plasma. Jumlah vitamin C yang direkomendasikan adalah 90 mg per hari untuk laki-laki dan 75 mg untuk wanita. Tubuh dapat menyerap maksimum vitamin C sebesar 400 mg per hari. Vitamin C yang berlebih akan diekskresikan lewat urin.
Asam askorbat mudah dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat. Dengan demikian maka vitamin C juga berperan dalam menghambat reaksi oksidasi yang berlebihan dalam tubuh dengan cara bertindak sebagai antioksidanDalam tubuh, vitamin C berperan sebagai suatu kofaktor dalam reaksi hidrosilasi dan amidasi. Pada sintesis kolagen, vitamin C mempercepat hidroksilasi prolin dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin, serta menstimulasi sintesis peptida kolagen. Vitamin C meningkatkan aktivitas enzim amidase yang berperan dalam pembentukan hormon oksitosin.

4.     Konsep Dasar
Larutan vitamin C dan sari buah yang diteteskan pada amilum iodida akan menghasilkan perubahan warna sampai warna biru pada amilum iodida hilang dan jumlah tetesan serta perubahan warna tersebut menunjukkan kandungan vitamin C pada masing-masing perlakuan. Semakin banyak jumlah tetesan berarti semakin sedikit oksidasi vitamin C pada perlakuan tersebut. Dan perlakuan yang dipanaskan hingga mendidih akan menunjukkan penurunan kandungan vitamin C pada larutan vitamin C dan sari buah yang diakibatkan adanya oksidasi.

5.     Metode
Hipotesis :
Semakin tinggi suhu maka semakin berkurang kandungan vitamin C yang diakibatkan oleh oksidasi.

6.     Pelaksanaan
a.    Semakin banyak jumlah tetesan amilum iodida berarti semakin sedikit kandungan vitamin C pada larutan vitamin C dan sari buah
b.    Semakin tinggi suhu pada larutan vitamin C dan sari buah maka kandungan vitamin C semakin berkurang
c.    Variabel :
1). Variabel bebas/Independen    : suhu
2). Variabel terikat/Dependen       : kandungan vitamin C
3). Variabel kontrol :
     - Konsentrasi dan volume amilum Iodida
     - Konsentrasi sari buah
     - ukuran tabung reaksi
     - ukuran pipet tetes
     - Lamanya waktu pemanasan

d.    Perlakuan :
I          : Amilum iodida + larutan vitamin C
II         : Amilum iodida + larutan sari buah jeruk
III        : Amilum iodida + larutan sari buah jambu biji merah
IV       : Amilum iodida + larutan sari buah tomat
V        : Amilum iodida + larutan vitamin C setelah dipanaskan
          VI          : Amilum iodida + larutan sari buah jeruk setelah dipanaskan
         VII          : Amilum iodida + larutan sari buah jambu biji merah setelah
            dipanaskan
        VIII          : Amilum iodida + larutan sari buah tomat setelah dipanaskan

7.     Hasil Pengamatan

Tabel : Prosentase kandungan Vitamin C pada suhu yang berbeda

Tabung
Perlakuan
Jumlah tetesan
Kadar vitamin C
(%)
I
Amilum iodida + larutan vitamin C


II
Amilum iodida + sari buah jeruk


III
Amilum iodida + sari buah jambu biji merah


IV
Amilum iodida + sari buah tomat


V
Amilum iodida + larutan vitamin C setelah dipanaskan


VI
Amilum iodida + sari buah jeruk setelah dipanaskan


VII
Amilum iodida + sari buah jambu biji merah setelah dipanaskan


VIII
Amilum iodida + sari buah tomat setelah dipanaskan



Keterangan :
Variasi suhu : 1. Suhu kamar            
  2. 40OC
  3. 50OC
  4. 60OC
  5. 70OC
  6. 80OC
8.     Transformasi Data
1)    Jelaskan mengapa eksperimen tentang uji kandungan vitamin C menggunakan larutan vitamin C dan sari buah?
2)    Mengapa jumlah tetesan larutan vitamin C dan sari buah mempengaruhi kandungan vitamin C?
3)    Jelaskan mengapa larutan vitamin C dan sari buah yang dipanaskan menurunkan kandungan vitamin C?
4)    Buatlah tabel dan grafik berdasarkan data hasil pengamatan!
5)    Bagaimana hubungan antara suhu dengan kandungan vitamin C?

9.     Kesimpulan
Buatlah kesimpulan berdasarkan Jumlah tetesan larutan vitamin C dan sari buah dengan melihat prosentase penurunan kandungan vitamin C pada suhu yang berbeda!

10.  Evaluasi
1).   Kesimpulan apa yang dapat anda buat berdasarkan data yang dikumpulkan?
2).   Apakah kesimpulan yang anda buat menerima atau menolak hipotesis?
3).   Apa yang terjadi bila tubuh kita kekurangan vitamin C?
4).  Bagaimana cara memasak bahan makanan yang benar agar kandungan vitamin C tidak rusak atau mengalami penurunan?
5)   Jelaskan manfaat vitamin C dalam menjaga kesehatan manusia!









LEMBAR KERJA SISWA (LKS) PRAKTIKUM



PENGARUH SUHU TERHADAP KANDUNGAN VITAMIN C 
PADA LARUTAN VITAMIN C DAN SARI BUAH



1.    MATA PELAJARAN                  : Biologi
2.    KELAS/SEMESTER                  : XI / I
3.    MATERI POKOK                        : Zat Makanan
4.    ALOKASI WAKTU                     : 3 minggu x 4 JP
5.    KOMPETENSI DASAR            
3.7 Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem pencernaan dan mengaitkannya dengan nutrisi dan bioprosesnya sehingga dapat menjelaskan proses pencernaan serta gangguan fungsi yang mungkin terjadi pada sistem pencernaan manusia melalui studil iteratur, pengamatan, percobaan, dan simulasi.
4.7   Menyajikan hasil analisis tentang kelainan pada struktur dan fungsi jaringan pada organ-organ pencernaan yang menyebabkan gangguan sistem pencernaan manusia melalui berbagai bentuk media presentasi.

6.    INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI 
Pengetahuan :
a.    Menganalisis hubungan antara struktur jaringan penyusun organ pada sistem pencernaan dan mengaitkannya dengan nutrisi dan bioprosesnya sehingga dapat menjelaskan proses pencernaan serta gangguan fungsi yang mungkin terjadi pada sistem pencernaan manusia melalui studil iteratur, pengamatan, percobaan, dan simulasi.
b.    Menyimpulkan hasil eksperimen tentang pengaruh suhu terhadap kandungan vitamin C pada larutan  vitamin C dan sari buah
Keterampilan :
a.    Melaksanakan langkah-langkah ilmiah kegiatan eksperimen untuk membuktikan pengaruh suhu terhadap kandungan vitamin C pada larutan  vitamin C dan sari buah melalui pengamatan, pengumpulan data dan analisis data
b.    Mengkomunikasikan hasil eksperimen tentang pengaruh suhu terhadap kandungan vitamin C pada larutan vitamin C dan sari buah dalam bentuk tabel atau grafik dan menuangkannya dalam  laporan tertulis maupun prensentasi 
Sikap :
a.    Membentuk sikap rasa ingin tahu, kreatif, inovatif, jujur dan bertanggung jawab dalam melakukan pengamatan dan percobaan di dalam laboratorium
b.    Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang struktur dan fungsi sel, jaringan, organ penyusun sistem pencernaan dan mengaitkannya dengan nutrisi dan bioprosesnya.

7.    TUJUAN PRAKTIKUM              :
Untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kandungan vitamin C pada larutan vitamin C dan sari buah

8.    LANDASAN TEORI                   :
1).   Vitamin C atau asam askorbat adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan, antara lain memperkuat imunitas terhadap infeksi, menjaga struktur kolagen, membantu penyerapan zat besi, mempertajam kesadaran dan sebagai antioksidan. Vitamin C termasuk golongan antioksi dan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Asam askorbat sangat mudah teroksidasi secara revesibel menjadi asam L-dehidroaskorbat. Asam L-dehidroaskorbat secara kimia sangat labil dan dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asaL-diketogulonat yang tidak memiliki keaktifan vitamin C lagi.  Penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai.
2).  Keasaman atau pH vitamin C tergolong asam. Vitamin C sangat sensitif terhadap pemanasan, bahkan pemanasan yang tergolong ringan (sedikit diatas suhu kamar). Vitamin C juga sensitif terhadap sinar, senyawa oksidator (seperti : iodium, Hydrogen Peroksida dll) dan logam serta pemanasan yang tinggi dapat mempercepat laju oksidasi pada vitamin C yang menyebabkan kerusakan pada sari buah. Vitamin C teroksidasi dalam larutan oleh oksigen, dimana terjadi reaksi hidrolisis protein dan lisin menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin (merupakan bahan pembuatan kolagen).
  Reaksi hidrolisis dapat diuraikan sebagai berikut :
Asam askorbat (vitamin C)              asam dihidro askorbat
    C6H8O3                                              C6H6O
                                                    
                                                                 H20

Dengan struktur kimia berikut ini :



3). Vitamin C stabil pada keadaan kering, namun dalam bentuk larutan mudah teroksidasi, terutama dalam larutan alkali. Oksidasi dipercepat dengan adanya panas, cahaya, oksidator dan logam berat. Vitamin C inkompatibel dengan garam besi, agen pengoksidasi dan garam dari logam berat.
4).   Vitamin C mudah diabsorpsi di saluran cerna dan terdistribusi secara luas ke dalam jaringan. Konsentrasi tertinggi ada dalam leukosit dan platelet daripada dalam eritrosit dan plasma. Jumlah vitamin C yang direkomendasikan adalah 90 mg per hari untuk laki-laki dan 75 mg untuk wanita. Tubuh dapat menyerap maksimum vitamin C sebesar 400 mg per hari. Vitamin C yang berlebih akan diekskresikan lewat urin.
5)    Asam askorbat mudah dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat. Dengan demikian maka vitamin C juga berperan dalam menghambat reaksi oksidasi yang berlebihan dalam tubuh dengan cara bertindak sebagai antioksidanDalam tubuh, vitamin C berperan sebagai suatu kofaktor dalam reaksi hidrosilasi dan amidasi. Pada sintesis kolagen, vitamin C mempercepat hidroksilasi prolin dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin, serta menstimulasi sintesis peptida kolagen. Vitamin C meningkatkan aktivitas enzim amidase yang berperan dalam pembentukan hormon oksitosin.

9.    ALAT DAN BAHAN                   :
a.  Alat
-   12 buah tabung reaksi
-    1  buah rak tabung reaksi
-    1  buah pembakar bunsen
-    1  buah kaki 3
-    1  buah penjepit kayu
-    9  buah pipet tetes
-    2 buah gelas ukur ukuran 25 atau 50 ml
-   1  buah beaker glass ukuran 500 ml
-   1  buah termometer
-   1 bungkus Korek api
-   1 lembar Kertas label
-   1 buah tisu
b.    Bahan
-   100 ml larutan vitamin C 0,1 %
-   250 ml larutan sari buah jeruk
-   250 ml larutan sari buah jambu merah
-   250 ml larutan sari buah tomat
-   20 ml Larutan Amilum Iodida
-   500 ml Aquades (H2O)

10. LANGKAH KERJA                   
1)     Masing-masing kelompok menyiapkan alat dan bahan dengan memperhatikan kandungan vitamin C pada suhu yang berbeda :
a.    Kelompok 1 : suhu kamar dan suhu 40oC
b.    Kelompok 2 : suhu kamar dan suhu 50oC
c.    Kelompok 3 : suhu kamar dan suhu 60oC
d.    Kelompok 4 : suhu kamar dan suhu 70oC
e.    Kelompok 5 : suhu kamar dan suhu 80oC
f.     Kelompok 6 : suhu kamar dan suhu 90oC
2)     Sediakan 8 buah tabung reaksi dan isi masing-masing tabung dengan 1 ml larutan amilum iodida
3)     Membuat tanda pada kertas label dengan nomor I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII dan ditempelkan pada tabung reaksi, sesuai perlakuan berikut :
I      :  Amilum iodida + larutan vitamin C
II     : Amilum iodida + larutan sari buah jeruk
III    : Amilum iodida + larutan sari buah jambu biji merah
IV   :  Amilum iodida + larutan sari buah tomat
V    :  Amilum iodida + larutan vitamin C setelah dipanaskan
VI   :  Amilum iodida + larutan sari buah jeruk setelah dipanaskan
VII  :  Amilum iodida + larutan sari buah jambu biji merah setelah
         dipanaskan
VIII :Amilum iodida + larutan sari buah tomat setelah dipanaskan
4)     Masukkan 1 ml larutan amilum iodida kedalam tabung reaksi
5)     Teteskan larutan vitamin C pada tabung reaksi I yang berisi amilum iodida sampai warna biru pada amilum iodida hilang. Catatlah berapa tetes larutan vitamin C untuk menetralkan larutan amilum iodida.
6)     Dengan cara yang sama, teteskan larutan sari buah jeruk pada tabung II, larutan sari buah jambu pada tabung III dan larutan sari buah tomat pada tabung IV. Catat berapa tetes masing-masing larutan sari buah untuk menetralkan larutan amilum iodida.
7)     Hitunglah kandungan vitamin C dari percobaan tadi dan catat hasilnya. Kandungan vitamin C pada larutan vitamin C 100% menjadi indikator menghitung kandungan vitamin C pada perlakuan lainnya.
8)     Siapkan 4 buah tabung reaksi dan berilah label A, B, C, dan D
9)     Tabung A masukkan larutan vitamin C sebanyak 5 ml
10)  Tabung B masukkan larutan sari buah jeruk sebanyak 15 ml
11)  Tabung C masukkan larutan sari buah jambu biji sebanyak 15 ml
12)  Tabung D masukkan larutan sari buah tomat sebanyak 15 ml
13)  Panaskan tabung A, B, C dan D hingga mendidih. Catat suhunya.
14)  Teteskan larutan pada tabung A kedalam tabung reaksi V yang berisi amilum iodida seperti pada langkah 4.
15)  Teteskan larutan pada tabung B kedalam tabung reaksi VI yang berisi amilum iodida seperti pada langkah 5.
16)  Teteskan larutan pada tabung C kedalam tabung reaksi VII yang berisi amilum iodida seperti pada langkah 5.
17)  Teteskan larutan pada tabung D kedalam tabung reaksi VIII yang berisi amilum iodida seperti pada langkah 5.
18)  Hitunglah kandungan vitamin C dari percobaan tadi dan catat hasilnya, seperti pada langkah 6.
19)  Hitunglah Prosentase kandungan vitamin C dan amati perbedaan prosentase kandungan vitamin C pada suhu yang berbeda.
20)  Data masing-masing kelompok dikumpulkan dan dianalisis penurunan prosentase kandungan vitamin C pada setiap tingkatan suhu.

11. HASIL PENGAMATAN            
Tabel : Hasil Kandungan Vitamin C pada Larutan Vitamin C dan Sari Buah

Tabung
Perlakuan
Jumlah tetesan
Kadar vitamin C
I
Amilum iodida + larutan vitamin C


II
Amilum iodida + larutan sari buah jeruk


III
Amilum iodida + larutan sari buah jambu biji merah


IV
Amilum iodida + larutan sari buah tomat


V
Amilum iodida + larutan vitamin C setelah dipanaskan


VI
Amilum iodida + larutan sari buah jeruk setelah dipanaskan


VII
Amilum iodida + larutan sari buah jambu biji merah setelah dipanaskan


VIII
Amilum iodida + larutan sari buah tomat setelah dipanaskan



REKAP PROSENTASE PENURUNAN KANDUNGAN VITAMIN C
PADA SUHU YANG BERBEDA




Jumlah tetesan larutan pada amilum iodida / prosentase penurunan kandungan vitamin C
KELOMPOK
SUHU
Vit. C
%
Jambu
%
Jeruk
%
Tomat
%
1
Kamar









40oC








2
Kamar









50oC








3
Kamar









60oC








4
Kamar









70oC








5
Kamar









80oC








6
Kamar









90oC








Rata-rata jumlah tetes larutan









Rata-rata Prosentase












ANALISIS DATA

...............................................................................................................................

 ...............................................................................................................................

...............................................................................................................................



12. PERTANYAAN                         
  1. Jelaskan mengapa eksperimen tentang uji kandungan vitamin C menggunakan larutan vitamin C dan sari buah?
  2. Mengapa jumlah tetesan larutan vitamin C dan sari buah mempengaruhi kandungan vitamin C?
  3. Jelaskan mengapa larutan vitamin C dan sari buah yang dipanaskan menurunkan kandungan vitamin C?
  4. Buatlah tabel dan grafik berdasarkan data hasil pengamatan!
  5. Bagaimana hubungan antara suhu dengan kandungan vitamin C? 
  6.  Kesimpulan apa yang dapat anda buat berdasarkan data yang dikumpulkan?
  7. Apakah kesimpulan yang anda buat menerima atau menolak hipotesis?
  8. Apa yang terjadi bila tubuh kita kekurangan vitamin C?
  9. Bagaimana cara memasak bahan makanan yang benar agar kandungan vitamin C tidak rusak atau mengalami penurunan?
  10. Jelaskan manfaat vitamin C dalam menjaga kesehatan manusia!

No comments:

Post a Comment

Salam literasi untuk semua peserta didik kelas X SMK RISE Kedawung Cirebon... Terimakasih telah membaca blog Biology Learning - Lina Ummu Kh...